<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Kumpulan Pos Media Massa &#8211; Jurnal Online</title>
	<atom:link href="https://jurnal.cilacap.info/tag/media-massa/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jurnal.cilacap.info</link>
	<description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Apr 2021 19:02:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
<url>https://img.cilacap.info/images/jurnal/favicon-32x32.png</url><title>Kumpulan Pos Media Massa &#8211; Jurnal Online</title>
<link>https://jurnal.cilacap.info</link>
<width>32</width><height>32</height><description>Inspirasi Berkarya</description>
</image>
	<item>
		<title>Media Tak Secerah dan Semakin Tidak Menggiurkan</title>
		<link>https://jurnal.cilacap.info/ci-38120/media-tak-secerah-dan-semakin-tidak-menggiurkan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2021 19:02:31 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Media Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Media Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jurnal.cilacap.info/ci-38120/media-tak-secerah-dan-semakin-tidak-menggiurkan</guid>

					<description><![CDATA[JURNAL ONLINE &#8211; CEO Nielsen Online Jepang, Charles Buchwalter mengatakan saat ini pembaca media online di Indonesia relatif kecil dibandingkan pembaca media konvensional, baru dua persen. Jauh dibandingkan Amerika sebesar 12 persen dan Jepang 10 persen. ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="https://jurnal.cilacap.info" aria-label="Jurnal Online">JURNAL ONLINE</a></strong> &#8211; CEO Nielsen Online Jepang, Charles Buchwalter mengatakan saat ini pembaca media online di Indonesia relatif kecil dibandingkan pembaca media konvensional, baru dua persen. Jauh dibandingkan Amerika sebesar 12 persen dan Jepang 10 persen. </p>
<p>Namun, pertumbuhan online bakal meningkat pesat. Itu artinya peluang media online meraup iklan sangat besar.</p>
<p>Media online ini masih akan berkembang bisa mencari keuntungan, Buchwalter mencontohkan laman jejaring sosial, Facebook. Saat ini penggunanya ada 400 juta. Dalam setiap 1 menit ada 2.000 orang yang melihat sebuah iklan kecil yang terpampang di halaman Facebook.</p>
<p>Dengan pertumbuhan pembaca online yang terus meningkat, Buchwalter menyarankan para pemasang iklan tidak hanya menggunakan media konvensional, cetak dan televisi. Harus ada dana yang disisihkan untuk memasang iklan online.</p>
<p>Buchwalter mengatakan, kemajuan teknologi online tak lantas &#8216;membunuh&#8217; media konvensional.</p>
<p>Televisi misalnya, masih jadi media favorit dan tidak tergeser oleh media online.</p>
<p>Pasca efek domino pandemic,kini sudah tumbuh lebih dari 2000 online berita. Akibatnya? Persaingan semakin ketat di media online sekaligus media konvensional. Dahulu di kisaran tahun 2000 an, di Indonesia media online yang sampai 1 juta hitter pembaca yakni nu onle, suara merdeka dan kompas. Kini tahu nggak, yang paling digdaya di media online masih dipegang kompas dengan 10 juta pelanggan setia.</p>
<p>Tentu jalan cadas bagi media online yang baru tumbuh, karena media online mempunyai banyak prasyarat agar tetap bertahan.</p>
<p>Padahal angka iklan yang masuk di dapat oleh media online memang sangat kecil dibandingkan yang diperoleh televisi atau media cetak. Meski ada banyak orang yang bilang bahwa masa depan ada di internet, belum ada riset yang kredibel dan terbuka untuk pasar Indonesia tentang berapa kue yang didapatkan media-media online. Bentuknya hanya perkiraan: media daring Bisnis Indonesia cuma menyumbang kecil. &#8220;Sekitar 35 persenlah, masuk ke non-cetak, ya,&#8221; kata Trianto, pemred Bisnis.</p>
<p>Bisnis non-cetak itu termasuk 14 anak usaha yang dimiliki Bisnis Indonesia. Para sumber dari kalangan media yang punya pengaruh dalam langkah bisnis perusahaannya sepakat bahwa iklan digital yang diperoleh media online mereka masih minim. &#8220;Padahal biaya produksi online ini juga tidak murah, perlu SDM (sumber daya manusia) yang banyak juga kalau mau maksimal,&#8221; kata Riyadi.</p>
<p>Bukan cuma dibagi dengan dua raksasa macam Facebook dan Google, media-media online juga harus bersaing dengan influencer di media sosial untuk merebut kue iklan itu.
Ekosistem itu yang membuat bisnis media baru susah berkembang apalagi bertahan, tulis Ross Tapsell, peneliti media Indonesia asal Australia dalam Media Power in Indonesia (2017).</p>
<p>Menurutnya, sokongan bentuk bisnis yang stabil masih jadi masalah besar bagi pelaku bisnis media, apalagi jika tidak tergolong ke dalam konglomerasi media di Indonesia.</p>
<p>&#8220;Banyak media cetak di Indonesia terpaksa menjual (medianya) kepada konglomerat digital. Beberapa contoh awal termasuk Suara Pembaruan (Riady Group) dan Surabaya Pos (Bakrie Group). Banyak koran independen di daerah juga dijual. Beberapa lain terpaksa tutup, misalnya, salah satu harian tertua Sinar Harapan yang basisnya di Jakarta, didirikan pada 1961,&#8221; tulis Tapsell, dosen Australian National University.</p>
<p>Konglomerat media yang dimaksud Tapsell adalah delapan perusahaan media yang bukan cuma berhasil melanggengkan bisnisnya, melainkan juga berkembang sebagai konglomerat digital. Disebut demikian karena mereka tak cuma punya koran, tapi juga stasiun televisi, radio, media online, dan bahkan infrastruktur sendiri seperti satelit..</p>
<p> Infrastruktur ini yang menurut Tapsell akan memberikan kuasa kepada perusahaan-perusahaan tersebut untuk memengaruhi media-media kecil yang modalnya kalah saing. Delapan perusahaan ini adalah CT Corp milik Chairul Tanjung; Global Mediacom milik Hary Tanoesoedibjo; EMTEK milik Eddy Kusnadi Sariaatmadja; Visi Media Asia milik Bakrie Group; Media Group milik Surya Paloh; Berita satu Media Holding milik Keluarga Riady; Jawa Pos milik Dahlan Iskan; dan Kompas Gramedia milik Jakoeb Oetama.</p>
<p>Merujuk riset Nielsen Indonesia, total belanja iklan di TV dan media cetak mencapai Rp134,8 triliun, atau naik 14 persen dari tahun sebelumnya. Dari angka itu, perolehan iklan di televisi mengambil 77 persennya alias Rp103,8 triliun.</p>
<p>Sementara media cetak hanya mendapatkan sisanya, dengan rincian: koran sebesar Rp29,4 triliun atau 22 persen, dan majalah sebesar Rp1,6 triliun atau hanya 1 persen. Riset Nielsen ini memantau iklan pada 15 stasiun televisi nasional, 99 surat kabar, serta 123 majalah dan tabloid. Belanja iklan ini sedikit menurun seiring penurunan jumlah media yang beroperasi,</p>
<p>Peta persaingan media hamper serupa persaingan media cetak diawal kran kebebsabn pers dibuka tahun 1998, di mana hamper 1000 media tumbuh, sekali lagi media online yang tumbuh sampai 2000 lebih tentu menjajikan, namun juga akan mengalami evolusi yang sama seperrti media cetak, siapa yang kuat bertahan, kuat modal dan mudah mendapat iklan, mampu menggaet pembaca serta memperoleh dukungan public, kualitas karya jurnalistik baik, kesejahteraan wartawan dijamin, itulah medfia yang akan mampu bertahan dan tetap di hati public.
Orang bilang media konvensional akan mati, tapi sebenarnya tidak, karena orang sekarang menikmati media secara bersamaan. di internet ya, di televisi juga bahkan lewat genggaman HP android, semua orang bisa mengaksesnya (***)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-media-online-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[ilustrasi media online]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-media-online-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[ilustrasi media online]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Menghitung Pertarungan Wacana di Media Dunia ini ada realitas bentukan dan ada realitas yang sebenarnya</title>
		<link>https://jurnal.cilacap.info/ci-32480/menghitung-pertarungan-wacana-di-media-dunia-ini-ada-realitas-bentukan-dan-ada-realitas-yang-sebenarnya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2020 05:26:54 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Koran]]></category>
		<category><![CDATA[Media Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Media Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jurnal.cilacap.info/ci-32480/menghitung-pertarungan-wacana-di-media-dunia-ini-ada-realitas-bentukan-dan-ada-realitas-yang-sebenarnya</guid>

					<description><![CDATA[JURNAL ONLINE &#8211; Pencitraan adalah upaya mempermak realitas yang biasa-biasa jadi luar biasa. Media biasa melakukan itu dengan teknik framming.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="https://jurnal.cilacap.info" aria-label="Jurnal Online">JURNAL ONLINE</a></strong> &#8211; Pencitraan adalah upaya mempermak realitas yang biasa-biasa jadi luar biasa. Media biasa melakukan itu dengan teknik framming.</p>
<p>Salah satu Koran Jakarta yakni Rakyat Merdeka dan Majalah Ibu kota pernah melakukan permak kulit muka dengan Judul dan Tampilan yang bikin khalayak kepincut membelinya.</p>
<p>Sebenarnya berita biasa saja, tapi judulnya dibuat lebih besar, lebih menggigit, lebih berani dan tampilan warna dominan menyala. Awal muncul Harian Rakyat Merdeka konon pernah sampai 600 000 exlrmplar.</p>
<p>Saya kira media massa yang mencapai di atas itu ya Kompas, Suara Merdeka dan Jawa Pos. Sulit memang menghitung oplah, di saat media kurang laku rata-rata media nasional 100000-250000 ex perhari sebut saja Media Indonesia, Bisnis Indonesia, Tempo, Warta Kota, Republika, Fajar, Kedaulatan Rakyat dll.
Koran lokal, saya kira 50000-100000 ex dimana di bawah grup besar Media Nasional, sebut saja Kompas dengan Tribun, Jawa Pos dengan Radar, dll.</p>
<p>Tentu bisa dibayangkan untuk mencukupi gaji wartawan dan karyawan, hampir dipastikan masih setara UMR. Memasuki era digital sekarang, media online diukur dari hitter atau jumlah pengunjung. Ada 3 media online yang tercatat mencapai 1 juta jitter di masa lalu yakni suaramerdeka, nu Online dan kompas.</p>
<p>Berbagai berita news yang di bawah itu sebut saja detik, VIVAnews, Okezone dll. Apakah media berafiliasi dengan partai politik tertentu? Saya jawab tidak. Kalau isinya dominasi dari pihak tertentu, bisa iya bisa tidak.</p>
<p>Tergantung progresivitas dari partai politik untuk masuk ke ranah media. di era pilkada sekarang ini, penulis sarankan kepada timses untuk berkoordinasi saja dengan iklan adventorial media.</p>
<p>Membangun opini publik dalam bentuk narasi baik opini, berita dan iklan kampanye melalui ruang media baik media umum, media sosial agar bisa merebut simpati khalayak oleh tim Pilkada adalah sah-sah saja. Selain kampanye yang terjadwal dan door to door, karena Pilkada kali ini bersifat langsung.</p>
<p>Di mana setiap orang memilih one man,one vote. Sebab bila tidak dikelola secara sinergis, justru akan menghasilkan iklim jurnalisme yang buruk. Dengan tuduhan si wartawan nantinya dikira memihak kubu sebelah.Memang pakem wartawan tidak boleh berpihak. Netral.</p>
<p>Memang ada konten online media lokal, tapi karena belum terkenal setengah matipun dikembangkan jumlahnya bisa dilacak dari jumlah anggota group itu di media sosial berbasis Facebook, nanti akan kelihatan anggotanya dan jumlah yang like dan dislike.</p>
<p>Sesungguhnya Pilkada kali ini di tengah pandemi Covid, sehingga ada mematuhi prosedur protokol kesehatan. Untuk meningkatkan partisipasi pemilih dan dukungan, berbagai pihak yang ingin menyebar berita positif bisa melakukan kampanye digital yang tidak kenal hari berkampanye.</p>
<p>Hampir semua tahapan Pilkada kali ini harus menyesuaikan standar protokol kesehatan. Perpu No 4, Perpu No 5, Revisi Perpu No 10 Tahun 2020 membatasi kerumunan massa hanya 50 orang toleransi Banwaslu 100 orang.</p>
<p>Mari kesepakatan ini dipahami dan dilaksanakan dengan penuh kesadaran patuh dengan undang-undang. Era digital memungkinkan cara menyebarkan pesan kegiatan melalui live striming. Karena nya selain acara harus dikemas secara baik dan menarik, juga tim medsos dan kompanye digital perlu memperluas pancaran atau spektrum penyebaran konten dari kompanye.</p>
<p>Memang inilah tantangan era digitalisasi yang paling baru sepanjang sejarah. Hanya dengan pendidikan politik yang dikemas mampu menarik simpati khalayak sehingg masyarakat luas punya referensi yang memadai untuk memilih calon pemimpinnya.</p>
<p>Kebijakan KPU, Pemerintah, Banwaslu, Polri dan kesepakatan Tim Paslon harusnya menjadi kesepakatan bersama (kolektif kolegial) untuk menyambut tahapan demi tahapan pilkada serentak kali ini. Dengan jumlah masa dibatasi harapannya bisa menekan cost politik dan ide-ide adu program atau visi dan misi Paslon bisa tersampaikan secara luas.</p>
<p>Sepanjang pantauan penulis, kampanye digital melalui medsos hampir berlangsung tiap waktu. yang jadi persoalan adalah kebosanan, kurang kreatif dan ujaran saling menyerang pihak lawan bisa dikurangi dan dihindari.</p>
<p>Perbedaan jangan dimasukan ke hati.Persatuan di atas segala-galanya demi kemajuan bersama.(***) Aji Setiawan,ST penulis adalah mantan ketua PWI Reformasi Korda Yogyakarta</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
	</channel>
</rss>
