Selain itu, bentuk selaput keperawanan bukanlah dinding penuh yang baru akan koyak setelah dimasuki benda asing (seperti kemaluan laki-laki). Bentuknya menempel di pinggir. Jadi ada kasus di mana seorang wanita tetap perawan walaupun sudah melakukan hubungan seks. Apalagi kalau hubungan seks itu tidak melibatkan vagina seperti dry humping, oral sex, atau Bahkan anal sex.
Lalu terkait zina sendiri, ada beberapa prinsip di Islam:
1. diwajibkan untuk selalu berprasangka baik. Bahkan berada berdua dengan lawan jenis sendirian di kamar bukanlah bukti kuat untuk zina dalam Islam (ingat cerita Yusuf alaihi salam dan Zulaikha)!
2. Bahkan sikap Nabi saat ada sahabat yang ingin dihukum adalah Nabi selalu berusaha menimbulkan keraguan, agar tak perlu ada penerapan hukum, sesuai kaidah الحدود تُدرأ بالشبهات (al-Hudūd Tudra’u bi as-Syubuhat — “hukum hudud bisa digugurkan dengan keraguan”). Hanya karena dipaksa oleh sahabat tersebut, Nabi akhirnya menjalankan hukuman!
3. Umar ibn Khattab melarang seorang ayah menceritakan pada calon menantunya bahwa anaknya pernah berzina.
Ustadz Ammi Nur Baits, dalam Konsultasi Syariah, mengutip hadits dalam Muwatha:
مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ
“Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’, no. 1508)
sumber: Jangan Ceritakan Dosa Zina Kepada Siapapun Sampai Mati! KonsultasiSyariah.com
Ustadz Buya Yahya pun juga berpandangan sama dengan Ammi Nur Baits bahwa zina tidak perlu diceritakan Bahkan kepada suaminya (walau untuk yang ini saya tak sepakat, menurut saya keterbukaan pada calon tetap perlu, atau setidaknya test lah apakah membawa penyakit menular seksual sebelum menikah).
Jadi saya tetap berpegang bahwa Islam tidak mementingkan keperawanan.
Tampilkan Semua
