Karena dia sudah lama hidup di laut, memasak makanan laut adalah upaya yang menakutkan bagi ayahnya. Banyak kenangan ayahnya dalam memasak, karena warisan dan kenangan keluarga, Yati telah tertarik untuk memasak sejak dia masih kecil.
Keluarga Yati menghabiskan hari yang biasa-biasa saja, tetapi ayah Yati meninggal di sekolah menengah Yatio, sehingga beban keluarga Yati jatuh pada ibunya, dan Ibu Yati membawa barang belanjaan. Pu menarik sembilan anak untuk tumbuh dewasa.
Setelah lulus dari Yatt High School, ia datang untuk bekerja di Jakarta, ibukota Indonesia. Karena Yatt High School adalah seorang mahasiswa akuntansi, ia melamar seorang akuntan di sebuah agen di Jakarta, dan pemilik agensi tersebut adalah suaminya saat ini.
Yati juga belajar bahasa Mandarin saat bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan agensi.Karena kebutuhan dari perusahaan agensi, ia perlu berkomunikasi dengan pelanggan perusahaan, jadi ketika ia berada di Indonesia, ia menggunakan dua bahasa pada saat yang sama.
Membuka restoran Indonesia bersertifikat Halal pertama di Kaohsiung
Setelah datang ke Taiwan, anak itu berangsur-angsur tumbuh. Yati mulai merasa bahwa perkembangan hidupnya memiliki lebih banyak kemungkinan. Dalam ingatan Yati, hasratnya untuk memasak tidak berkurang. Dengan memasak hidangan, dia juga bisa menghiburnya.
Kerinduan. Oleh karena itu, Yati mulai mendapatkan sertifikat untuk memasak makanan Cina dan makanan yang dipanggang. Dalam suatu kesempatan, Yati mendengar bahwa pemilik bar makanan ringan Indonesia lainnya mengatakan, “Restoran Indonesia pasti kotor dan berantakan agar terlihat seperti restoran Indonesia.”
Hal Ini membuat Yati sangat terkejut dan sedih, berpikir bahwa karena beberapa pemilik toko Indonesia yang tidak terlalu memperhatikan kesehatan membuat kesan Taiwan terhadap toko-toko Indonesia buruk dan membuatnya sangat sedih, maka dengan dukungan keluarganya, Yati memulai perjalanan kateringnya.
Pada tahun 2014, dengan dukungan suaminya, Yati membuka restoran pertama di Jalan Minghua di Kaohsiung dan merupakan satu-satunya restoran Indonesia di Kaohsiung pada saat itu.
Saat itu, Yati menyadari bahwa restoran di selatan tidak memiliki sertifikasi halal (halal), karena sertifikasi halal membutuhkan kondisi yang sangat ketat untuk mendapatkannya.
Sertifikasi halal memerlukan banyak prosedur, dan setiap bahan, setiap hidangan, dan dapur, seluruh lingkungan restoran harus terus diuji dan disertifikasi untuk mendapatkan tanda tangan halal. Oleh karena itu, Yate merasa bangga dengan sertifikasi halalnya (حلال, Halal), yang mewakili desakannya akan makanan-segar, sehat dan lezat.
Tampilkan Semua
