Milenial peduli lingkungan
Motivasi Risky untuk bergabung dan turut berperan aktif di bank sampah ialah berasal dari ibundanya yang merupakan seorang penggagas Bank Sampah Pancadaya.
“Waktu masih SMA, saya sering diajak Mama ikut kegiatan yang diadakan bank sampah berupa kegiatan pengolahan sampah menjadi suatu kerajinan, tetapi cuma sekadar ikut. Bahkan awalnya tidak tertarik sama sekali,” kata dia.
Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai menyadari ternyata sampah yang dianggap tak bernilai pun bisa menghasilkan uang jika diolah dengan baik menjadi barang yang bernilai seperti souvenir, tas, dan lainnya.
“Bahkan jika ditekuni dengan sungguh-sungguh bisa jadi peluang usaha yang menjanjikan ke depannya,” kata dia.
Tidak hanya itu, ia juga terinspirasi dari semangat orang tuanya yang terus belajar melakukan berbagai cara supaya masyarakat di lingkungannya peduli dengan sampah agar tidak membuang sampah lagi di sembarangan tempat.
“Di sana saya mulai tersadar, masa milenial kalah sama orang tua yang begitu peduli dengan lingkungannya,” ujar dia.
Menurut Risky, sebagai generasi milenial seharusnya turut berperan aktif membantu pemerintah dalam mengurangi sampah, bukan malah menjadi penyumbang sampah terbesar.
“Untuk itu saya mulai menanamkan dalam hati, sudah saatnya milenial peduli dengan lingkungan,” kata dia.
Alasan lain yang membuat Risky termotivasi bergabung sebagai penggiat bank sampah ialah karena ia juga merupakan salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di Kota Padang.
“Karena saya sendiri memiliki usaha yang bergerak di bidang minuman sejak 2019 lalu dengan pengemasannya dari bahan plastik dan Standing pouchnya pun dari plastik,” kata dia.
Kemudian ia mencoba menyimpan sampah plastik hasil penjualan minumannya itu. Setelah itu ditabungkan ke Bank Sampah Pancadaya yang bisa ditukarkan dalam bentuk emas.
Tabungan sampah yang baru saja dimulai sejak awal 2020 tersebut sudah terkumpul menjadi 1 gram emas.
Sampah yang dikumpulkannya berupa, botol kaca, sampah karung es, plastik, botol, dan kotak susu. Bahkan sampah tersebut mencapai ratusan botol per pekan.
“Dari sini saya mulai sadar bahwa sesuatu yang dianggap sepele, malah itulah yang akan membantu ataupun menjatuhkan kita. Maka perlu adanya kepedulian,” kata dia.
Motivasi milenial
Ke depannya Risky ingin mengadakan kegiatan berupa pelatihan yang khusus mengajak milenial lainnya di Kota Padang agar lebih banyak lagi yang peduli dengan sampah.
Kemudian ia juga akan mengedukasi setiap pelanggannya untuk menabungkan sampah-sampah bekas minuman mereka ke bank sampah.
Tampilkan Semua
