Risky menceritakan pembuatan aplikasi bank sampah tersebut berawal dari tawaran seorang dosen Unitas Padang yang berinisiatif mengadakan aplikasi bank sampah dalam bentuk digital.
“Akan tetapi pihak Unitas hanya mewadahi pengadaan aplikasi, bukan untuk pembuatan aplikasinya sehingga Risky ditawari untuk membuat aplikasi itu,” kata dia.
Akhirnya, Risky mencoba membuat aplikasi bank sampah hanya bermodalkan ilmu dari internet. Kemudian ia pun belajar dari artikel di Google yang berkaitan dengan pembuatan aplikasi bank sampah.
Pembuatan aplikasi tersebut tidak terlalu rumit, hanya berlangsung sekitar dua pekan. Namun, sedikit terkendala pada saat publikasinya, karena belum punya developer sendiri. Untuk pembuatan developer pun harus membayar sekitar Rp650.000 sehingga harus menunggu 14 hari untuk terbit di Google Play Store.
“Alhamdulillah sekarang aplikasi tersebut sudah bisa diunduh di Google Play Store,” ujar dia.
Kemudian terkait desain logo bank sampah pancadaya yang berbentuk tangan dan berwarna hijau tersebut juga merupakan karya Risky sendiri yang dipelajari autodidaktik.
“Kalau desain logonya juga ide saya sendiri. Kalau belajar mendesain sudah sejak kuliah,” kata dia.
Menurut Risky, saat ini dengan adanya teknologi, apa pun bisa dipelajari sendiri dengan mudah melalui media pembelajaran yang bisa diakses di mana-mana.
Ibarat pepatah Minang, alam terkembang menjadi guru. Artinya, alam adalah guru yang berharga. Selagi kita mau memanfaatkannya sebagai media pembelajaran.
Sampah jadi emas
Bank Sampah Pancadaya yang digagas orang tuanya Mina Dewi sejak 2012 itu, sampai saat ini memiliki 600 nasabah yang telah bergabung di bank sampah tersebut.
Karena bisa ditukar dengan emas, hal itu membuat nasabah menjadi lebih semangat dalam mengumpulkan sampah.
Risky juga merencanakan ke depan akan mengembangkan aplikasi tersebut menjadi tabungan emas. Supaya masyarakat yang menabung di Bank Sampah Pancadaya bisa melihat saldo tabungan emas mereka melalui aplikasi.
“Program menabung sampah menjadi emas ini merupakan hasil kerja sama bank sampah pancadaya dengan PT Pegadaian Area Padang. Untuk itu kita perlu persetujuan dari PT Pegadaian dalam pengembangan aplikasinya untuk menambahkan beberapa produk pegadaian lainnya,” kata dia.
Riski juga akan terus menyosialisasikan tentang aplikasi Bank Sampah Pancadaya ke masyarakat di Kota Padang. Karena, menurutnya, saat ini jumlah nasabah di Bank Sampah Pancadaya masih didominasi masyarakat dari Kecamatan Kuranji.
“Kita tidak menutup kemungkinan, ke depannya melalui aplikasi ini nasabah bank sampah juga boleh berasal dari seluruh kecamatan di Kota Padang,” kata dia.
Tampilkan Semua
