Kesulitan Tempat, Tak Punya Where

oleh

JURNAL ONLINE – Setiap hari berita Pandemi kembali naik. Lalu, pemerintah daerah memberlakukan aktivitas terbatas di bawah 50 orang dan harus sesuai protokol kesehatan. Pemberlakuan kebijakan menyambut kuartal III ekonomi tentu perlu dipertimbangkan mengingat pertumbuhan ekonomi yang cenderung menurun dan Bahkan ekonomi mati.

Darimana kita akan memulainya? Syahwat ekonomi atau motif ekonomi, mau tidak mau dengan jalan manufakturing. Revolusi di Inggris, Restorasi Meiji, dll menjadi contoh nyata. Karenanya membangun mulai dari 0. Sebuah negeri yang aman dan nyaman, penduduknya sehat, baru kita mencapai kesejahteraan. Aktivitas virtual serba digital harus dihadapi di tengah suasana masa Pandemi. Tahun 19 99, saya pernah mengalami kemarau sampai November. Tahun 2012 juga sampai pertengahan Desember. Artinya apa? Ada ketidaknormalan cuaca. Tahun 2000 an sangat terkenal dengan analisa pembangunan berkelanjutan., sama artinya dengan step by step. Bahkan sekarang harus ekstra kerja keras, cerdas dan ikhlas. Demi negeri yang lahir lewat cucuran darah para syuhada, keringat dan air mata seluruh rakyat penjuru negeri.

Mari kita gerakan ekonomi sektor riil (ekonomi nyata) yang berada di pusaran ekonomi kecil dan menengah (UMKM). Karena sektor inilah yang akan memutar moda ekonomi rakyat. Ekonomi pinggiran memang harus diperkuat, karena baru memulai usaha.

Tentu, hal paling nekat, keberanian, kesabaran, kesungguhan, kerja keras dan ikhlas menerima keadaan. Di saat daya beli masyarat menurun, pendapatan tentu saja berimbas pada pemasukan keuangan. Padahal sekarang era global, di mana kita harus serba cepat, efektif dan efisien dalam hal apa pun, agar produktivitas meningkat. Istilah orang baru usaha ora Ketang wis usaha blusukan, malah blangsakan. Ikhtiar untuk memperbaiki keadaan yang jelas harus dibangkitkan. Diam, berarti tidak merubah keadaan.