Tantangan Masalah Bangsa Sekarang

Aji Setiawan DPC Sekretaris PPP Purbalingga
Aji Setiawan DPC Sekretaris PPP Purbalingga

Sejak setengah bulan yang ini aktivitas masyarakat yang semula diprediksi akan kembali normal, ternyata meleset. Pandemi yang melanda suruh dunia kembali meningkat sehingga,aktivitas perlu ada pembatasan. Kegiatan masyarakat yang memicu kerumunan besar bisa dibubarkan secara paksa.

Semua dengan protokol kesehatan. Sudah setengah bulan ini, resesi ekonomi global melanda. di mana pertumbuhan ekonomi dunia rata rata minus 5,2 persen. Tak terkecuali Indonesia yang diprediksi mampu tumbuh di atas 5 persen, harus mengkoreksi angka pertumbuhan antara 2-5 persen.

Belum ada cara mujarab untuk bangkit dari resesi ekonomi. Kebangkitan ekonomi tanah air kita sesungguhnya sudah beralih dari pola agraris ke industri. Akan tetapi ketidakkokohan fundamental agraria bisa jadi membuat kita harus berfikir ulang tentang revolusi ekonomi digital 4.0 Bahkan 5.0 akan mengalami big hang. Revolusi 4.0 bertumpu pada lompatan digital dan informasi, sementara revolusi 5.0 bertumpu pada Human Resourse Development (HRD).

Kebutuhan masa depan manusia tanpa mempersiapkan kebutuhan paling pokok dan mendasar manusia adalah keniscayaan. Kebutuhan pokok itu adalah sandang, pangan dan papan. Pergeseran manusia dari pola agraris ke era industri membuat terjadi pergeseran lahan pertanian menjadi lahan pabrik pabrik industri. Pun pola pekerjaan, banyak petani beralih menjadi buruh pabrik dan sektor usaha.

Jumlah petani kita sekarang 27,1 juta orang, bayangkan jumlah penduduk Indonesia sekarang yang sudah di atas 315 juta. Secara perhitungan kasar satu orang mensuplai 11-12 orang. Saya kira ke depan, pemerintah perlu lagi punya prioritas mencetak sawah baru setengah juta hektar per tahun.

Memberdayakan pemuda untuk kembali menggeluti bidang pertanian. Kebutuhan ini dirasa mendesak agar kita yang sudah berswasembada pangan sejak 1970 an tidak terdampak terlalu jauh dari resesi ekonomi global dan pandemi.

Tampilkan Semua
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait

Exit mobile version